Antara 2 hati dan mimpi (part 3)
“apalagi yang perlu aku jelasin, kamu udah baca suratnya
kan?
Trus apalagi yang perlu aku jelasin, atau kamu gak
percaya kalau itu surat dari aku ?
apa perlu aku ulang kata-kataku ca? ca aku sayang
sama kamu “
Caca
melangkah mantap di koridor sekolah, jilbabnya yang panjang berkibar, ditambah
senyum indah nan ramah dari bibir ranumnya seolah mempesona setiap mata yang
memandang, pagi itu ia belum melihat kiki entah kemana anak itu fikirnya,
mungkin belum datang.
Sampai
dikelas ia mendapati di atas meja terletak sebuah surat dan sebuah kotak kado
berukuran kecil, ia mengambil surat tersebut lalu membacanya teruntuk alesha
Zahra. Siapa kiranya yang memberikan ini, suasana kelas kosong temannya
yang lain sedang berada diluar kelas, di taman depan kelas, lapangan, sibuk
dengan aktifitas masing2. Ia lalu duduk dan membuka surat tersebut .
Ca aku gak tau gimana cara ngomongnya
Aku tau mungkin menurutmu ini norak, tapi Cuma
lewat ini
Aku berani mengatakannya, kalau aku sayang sama
kamu
Aku gak butuh jawaban kamu sekarang ca
Yang penting aku sudah menyatakan apa yang aku
rasakan ke kamu
aja dah buat aku seneng.
Sekali lagi aku nyatain kalo aku sayang sama kamu
ca.
Dika Mahendra
Belum lagi
hilang rasa kaget caca, ditambah kiki yang baru datang dan mengejutkannya
membuatnya sungguh-sungguh terkejut.
“eh eh
kenapa kamu ca? segitu kagetnya”
“eh kamu sih
ki, kebiasaan deh ngagetin gitu “
“hehe maaf
deh, itu apaan ca” menunjuk surat yang di pegang caca
Caca lalu
menceritakannya pada kiki
“yaa ampuun
ca, yaa wajar sih kalo diliat2 juga semua orang pada tau kalo si dika itu suka
sama kamu, eh ngomong2 caranya romantis lo ca, hehe”
“kiki apaan
sih, aduuh ki aku bingung ni aku harus gimana, aku kan gak mau pacaran”
“lah emang
dia ngajak kamu pacaran?”
“eh iya ya,
gak sih ki, tapi maksud surat ini apa dong, mana ada zaman sekarang yang Cuma
ngasih tanpa ngeharap kembali ki”
“aduuuh aku
juga gak ngerti yaa ca, kenapa gak kamu Tanya langsung aja ca”
“yaelah ki
malu dong “
Dika sang
pemeran utama pun memasuki kelas, wajahnya yang cukup tampan dan kecerdasannya
membuat banyak teman2 akhwat disekolah caca yang tertarik padanya, dika
berjalan menuju tempat duduknya sambil melemparkan senyum pada caca senyum yang
semenjak caca membaca surat darinya terasa lebih beda dari sebelumnya. Kiki
memberi kode mengharuskan caca untuk memberanikan diri untuk bertanya dengan
dika perihal surat itu.
“dika” sapa
caca
“iya ca ?”
Caca lalu
berdiri dan melangkah sedikit tapi jaraknya dengan jaka memang cukup jauh.
“ada yang
mau aku omongin dik”
“iya ngomong
aja ca, ada apa?”
“surat ini
..” sambil mengarahkan pandangannya pada surat yang ada di tangannya
Dika tak
menjawab melainkan dia hanya tersenyum lalu berkata
“maaf ya ca
aku lagi ada urusan bentar” masih tersenyum lalu pergi meninggalkan kelas
Caca kesal
lalu kembali menuju kiki,
“kan ki,
malu tauuu” manyun lalu memeluk kiki
“yaudah ca
gpp yang pentingkan kamu dah ngomong tinggal tunggu jawabannya aja”
Ditengah
percakapan terlihat sosok kak jaka lewat di depan kelas caca tapi disampingnya
dengan seorang wanita dengan notebook ditangannya wanita itu adalah kak nina,
yaa memang di kabarkan kak jaka cukup dekat dengan kak nina sosok wanita
solihah yang juga pintar itu yang
merupakan sekretaris umum rohis , bahkan tak ayal terdengar kabar jika mereka
berpacaran, tapi caca tak mau terikut-ikut dengan gosip yang belum jelas
kebenarannya itu, mereka seperti membicarakan persiapan rapat nanti terlihat kak jaka mendengarkan
penjelasan dari kak nina.
“ehem ehem”
kiki mengehentikan lamunan caca
“apaan sih
ki”
“godhul
bashor (jaga pandangan) caaa” meledeki caca
“iya iyaaa
astaghfirullah “ ujar caca
Bel masuk
pun berbunyi . . .
. . .
Jam
menunjukkan pukul 10 caca dan dika melangkah keluar kelas setelah mendengar
pengumuman bahwasanya pengurus rohis diharapkan berkumpul di musholla, dika
adalah ketua humas di rohis umum jadi dia juga akan mengikuti rapat ini,
perjalanan menuju musholla terasa lama dan canggung tapi dika memecahkan keheningan.
“gak usah
difikirin ca” ujarnya sambil tersenyum tipis
“emang kamu
tau aku mikirin apaan” ujar caca dengan wajah heran
“mikirin aku
lah “ tertawa kecil
“kamu tu
becanda mulu dik, kamu mainin aku yaa” kali ini caca serius dan menghentikan
langkahnya kali ini tepat di bawah pohon yang rindang beberapa meter lagi akan
sampai ke musholla. Melihat itu dikapun menghentikan langkahnya lalu menghadap
caca dan menarik nafas dan tetap tersenyum
“aku gak
pernah mainin kamu ca, dan gak pernah terfikir buat mainin kamu, karna kamu gak
pantas buat dimainin” ucapnya santai, dan kali ini terlihat serius
Deg! Caca
tak menyangka dika seromantis itu membuatnya bingung harus berkata apa.
“ya terus
jelasin dong dik”
“apalagi
yang perlu aku jelasin, kamu udah baca suratnya kan? Trus apalagi yang perlu
aku jelasin, atau kamu gak percaya kalau it surat dari aku ? apa perlu aku
ulang kata-kataku ca? ca aku sayang sama kamu “
“bisa
dilanjutkan nanti obrolannya?” kak jaka menghentikan pembicaraan kami, terlihat
seperti dia baru saja mengambil air wudhu dan sedang mengelap kacamatanya.
Yaaa
ampuun kak jaka, jangan2 kak jaka denger semua apa yang kami bicarain, gimana kalo kak jaka salah faham, aaaah gak
tau deh, ya Allaah kenapa jadi rumit gini, belum lagi pernyataan dika yang aku
gak tau mau jawab apa
(fikir caca)
Mereka lalu
menuju mushollah, sepanjang rapat caca
melihat seperti ada yang berbeda dengan kak jaka atau hanya perasaannya saja
dia sedikitpun tak melirik caca yaaa sedikitpun tidak, apa kak jaka marah, aaah
apaan sih emangnya kak jaka suka sama padaku ujarnya dalam hati, belum lagi
kak nina yang terlihat sangat kompak dan serasi dengan kak jaka dalam menjelaskan
urutan acara yang akan dilaksanakan.
Rapat berjalan
sebagaimana mestinya, di dalam rapat caca tau lebih banyak tentang kak jaka,
ternyata sosok yang diam2 di sukainya itu adalah pemimpin yang bijaksana yang
mampu mencari jalan keluar setiap permasalahan yang di ajukan peserta rapat
juga tidak membeda-bedakan peserta rapat baik itu teman sekelas ataupun adik
kelas bagi kak jaka semua pengurus rohis adalah rekan seperjuangan yang
sama-sama mengemban amanah mengembangkan rohis sekolah ini, mengemban amanah
dakwah yang harus di syi’arkan dengan memulai dari diri sendiri lalu kemudian
mengajak orang2 disekitar kita, kak nina juga sangat baik terlihat dia adalah
kakak kelas yang ramah yang sangat memperhatikan perkembangan pergaulan akhwat
di sekolah ini ia menuturkan semoga akhwat yang ikut menjadi pengurus da nada dalam
bagian rohis ini mampu menjadi teladan yang baik bagi teman2 lainnya ajak
mereka untuk bergabung dalam organisasi rohis agar mereka juga bisa mendapatkan
ilmu melalui kajian rutin mingguan kita yang bisa menambah wawasan kita tentang
agama terutama mengenai pergaulan laki2 dan perempuan yang seolah saat ini
sudah tak ada batasnya.
Kak jaka
terlihat sangat cocok dengan kak nina membuat caca jealous dan minder jika
harus dibanding2kan dengan kak nina, caca kembali focus dengan rapat tak ingin
berfikir lebih jauh lagi tentang kak jaka dan kak nina, apalagi menduga-duga
nanti bisa2 jatuhnya jadi su’udzon, Astaghfirullah.
“baiklah
mungkin cukup sampai disini rapat kita hari ini terimakasih atas waktunya,
mohon maaf atas segala kesalahan, wassalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh”
kak jaka menutup rapat
“wa’alaikumussalam
warohmatullah wabarokaatuh “ jawab kami serentak
Peserta rapat
segera keluar satu persatu setelah membaa do’a penutup majlis, jam menunjukkan
setengah 12 caca enggan beranjak menuju kelas karna jam kali ini kosong
dikarenakan guru akidahnya tidak dapat hadir sebab sedang berada diluar kota.
caca
memutuskan untuk duduk sebentar di bangku samping musholla yang terletak di
bawah pohon nangka yang tak berbuah itu.
“aku duluan
ca” ujar rini anak kelas XI b yang merupakan sekretaris rohis kelas XI
“oh iya rin”
jawab caca sambil tersenyum, dilihatnya dika juga sudah berjalan lebih dulu.
fikiran caca menerawang ada apa dengan hatinya,
tak bisa ia bohongi jika ia juga menyukai dika tapi hanya sebatas teman untuk
bertukar ilmu, teman becanda, caca Nyaman dengan statusnya dengan dika yang tak
lebih dari teman itu ia tak ingin merusak pertemanan itu dengan mengatas
namakan cinta, siapa menyangka kalau dika secepat itu menyatakan perasaannya,
disisi lain juga ada sosok yang memikat hatinya, “ya Allaah salahkah jika
hati ini menyimpan rasa seperti ini “ fikirnya sambil menundukkan
pandangannya kebawah menatap dedaunan yang jatuh di terpa angin di siang itu .
“ketika
harus memilih, pilihlah pilihan yang bisa mendekatkan kita pada Allah” ujar kak
jaka yang membuat caca sedikit terkejut, kak jaka berdiri disebelahnya tapi
dengan jarak yang tidak terlalu dekat.
“kak jaka,
gak ke kelas kak ?” caca malu seolah kak jaka bisa membaca apa yang ia fikirkan
“kamu sendiri?
aku lagi jam kosong guru biologi tidak hadir hari ini”
“emm sama
kak, guru akidah kami juga gak ada hari ini”
“kamu sama
dika pacaran?” caca terkejut mendengar ucapan kak jaka
“kenapa
kakak menanyakan hal itu ?”
“ya kalau
kamu tidak mau menjawab juga tidak apa2” sambil tersenyum tapi tidak menatap
caca melainkan melihat taman bunga kecil yang ada di hadapan mereka, caca tidak
tau itu perasaan apa tapi yang jelas dia suka melihat senyum itu.
“gak kok
kak, kami hanya berteman”
“oh begitu,
baguslah” lagi lagi sambil tersenyum
Baguslah?
Apa maksudnya? Tapi caca tidak menanyakan itu melainkan.
“kak jaka
dan kak nina pacaran?”
wajah kak jaka terlihat heran, dan langsung menatapku tapi tidak lama ia lalu menarik pandangannya lagi.
wajah kak jaka terlihat heran, dan langsung menatapku tapi tidak lama ia lalu menarik pandangannya lagi.
“kami
dijodohkan “
Ujar kak
jaka seolah membuat runtuh langit siang itu bagi caca
“maaf kak
saya harus ke kelas “ caca tak mau menangis di depan kak jaka, segera ia
melangkah menjauhi kak jaka, langkah kakinya terhenti ketika didapatinya kiki
di depan kelas sedang mengobrol dengan teman yang lain, ia lalu menarik tangan
kiki dan mengajak nya kebelakang kelas.
“ada apa ca?”
ujar kiki kaget melihat air mata yang jatuh dari bola mata coklat caca sahabat
terbaiknya itu
Caca memeluk
kiki
“kak jaka
dijodohin ki” sambil tersedu-sedu
“dijodohin
sama siapa ca? kamu tau dari mana?”
“aku
mendengarnya sendiri ki, dengan kak nina”
“yaudah ca
jangan nangis gini dong malu ntar dilihat orang” kiki menasihati caca sambil
mengelus-elus pundaknya
Caca lalu
menghapus airmatanya dan memperbaiki jilbabnya
“aku gak tau
ki, kenapa aku bisa nangis gini, aku gak tau perasaan aneh apa ini, apa hak ku
untuk cemburu padanya yang jelas2 gak pernah melirikku, mulai sekarang aku akan
buang jauh2 perasaanku buat kak jaka ki, begitu juga buat dika, aku gak mau perasaan
ini mengganggu sekolahku bahkan mengganggu ibadahku”
“aku bakal
dukung semua keputusan kamu ca, buat ke dika kamu omongi baik2 ya jangan sampai
ada salah faham dan merusak silaturrahim kita”
“makasih ya
ki, aku seneng bisa cerita ke kamu”
kembali memeluk kiki sahabatnya yang bawel tapi juga sangat perhatian itu
“sama2 ca aku
seneng bisa sedikit ngurangin beban difikiranmu itu “
Keduanya memiliki
mimpi untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi setelah lulus
nanti, mereka ingin terus menuntut ilmu bahkan jika memang harus keluar negri
sekalipun, mereka ingin membangun sebuah rumah kasih sayang untuk menampung
anak2 yang tidak bersekolah dan tidak memiliki orang tua untuk memberikan
pendidikan kepada mereka, sehingga bisa membantu memberantas kebodohan di tanah
air tercinta ini.
“oh iya ca
tadi ifa bilang kalo dia udah nemuin tempat baksos untuk bulan depan “
“dimana ki ?”
“kurang jelas sih ntar pulang kalo kamu bisa ikut kita bisa survey bareng “
“kurang jelas sih ntar pulang kalo kamu bisa ikut kita bisa survey bareng “
“eemm boleh
deh tapi aku telp ibu dulu yaa”
“oke deh”
Caca dan
kiki awalnya hanya berdua melakukan bakti social kepada masyarakat kurang mampu
di tanah tanjung pinang ini, tapi ternyata banyak teman2 yang ingin ikut
berpartisipasi dalam kegiatan amal yang dilakukan sekali sebulan itu akhirnya
terbentuklah organisasi dengan nama “geduma” gerakan peduli sesame, yang
terdiri dari anak2 kelas XI yang ingin menyumbangkan sedikit dari harta mereka
untuk orang-orang yang membutuhkan. Caca adalah ketua gerakan tersebut yang beranggotakan
para akhwat2 yang ingin berbagi baik materi maupun non materi, ilmu dan lain
sebagainya.
Bagi caca
dan teman2 dapat membantu sesama dan dapat meringankan beban mereka adalah hal
yang paling menyenangkan ketimbang jalan2 shopping dan menghabiskan uang untuk
hal2 yang kurang bermanfaat.
. . .
Caca menutup
mushafnya setelah tilawah setengah juz menyukupkan tilawahnya tadi subuh yang
baru setengah juz, caca berusaha istiqomah untuk tilawah minimal 1 hari 1 juz. Pandangannya
terarah menuju kotak kado di atas meja belajarnya yag belum sempat ia buka,
dirapikannya peralatan sholatnya setelah itu ia menuju meja belajar dan membuka
kotak tersebut.
Sebuah
cincin berwarna keperakan dan secarik kertas, yang bertuliskan.
Ca kalau kamu pakai cincin ini besok itu berarti
Kamu juga punya perasaan yang sama denganku, tapi
Kalau gak aku akan faham ca mungkin kita
Emang sebaiknya berteman saja, dan
Cukup aku yang menyimpan perasaan ini ke
Kamu.
. . .
Komentar
Posting Komentar