Antara 2 hati dan mimpi (part 2)



Deg ! hati caca seperti di hantam batu yang sangat keras, memilukan, perih, kenapa
harus seberat ini beban yang fatma tanggung . caca tak mau melanjutkan
 pertanyaan mengenai orang tua fatma
 ia tau itu hanya akan membuat fatma sedih

Sepanjang jalan caca memperhatikan indahnya nikmat yang telah Allah berikan ini dan sudah seharusnya untuk di syukuri, ada yang sudah tidak punya kaki tapi tetap berusaha dengan berjualan Koran dan hanya duduk di bibir jalan di lampu merah dengan kopiah putih di kepalanya, kakek itu terlihat sudah lelah tapi tetap saja tak terlalu terlihat raut2 kepayahan itu dari wajahnya, suara kendaraan yang menyatu di udara seolah membentuk irama music tersendiri, nyanyian anak jalanan dengan petikan  gitar dan suara botol2 aqua yang di isi dengan batu serasa enak mereka nyanyikan, rasanya mereka memiliki bakat membuat suatu kreatifitas, lampu merah ini terasa lama kali ini, pandangannya terhenti oleh sesosok tubuh mungil yang menangis di sudut halte di sebrang jalan, pakaiannya lusuh tapi wajahnya yang polos membuat caca tidak tahan untuk membiarkannya menangis terlalu lama, tangan kanannya memegang beberapa helai Koran dan tangan kirinya memegang perutnya, begitu lampu hijau menyala caca langsung memutar balik arahnya menuju adik yang dilihatnya tadi, dan dia masih saja menangis, segera memarkirkan motornya dan segera menghampirinya.
          “hai dik kenapa menangis ? “ sapanya lembut sambil memegang bahunya
Anak itu melirik sebentar kemudian melanjutkan tangisnya lagi, caca bingung apa yang harus dilakukannya agar anak itu berhenti menangis.
          “dik nama kamu siapa ? kenapa kamu menangis terus, ayo cerita dong sama kakak“ kali ini lebih lembut sambil mengelus rambut anak tersebut
          “aku lapar kak .. “ ucapnya tanpa sedikitpun menoleh kearah caca
Kata2 itu menyayat hati nuraninya, dari ia dilahirkan sampai usia saat ini caca tak pernah merasa kelaparan karna ia telah di lahirkan di dalam keluarga yang bisa di bilang mampu, tapi bagaimana dengan anak yang baru saja ia temui ini ini di usianya yang sekecil ini mungkin bukan kali ini saja ia merasa kelaparan, hari ini mungkin aku baru mengetahuinya ya Allah betapa mirisnya negriku ini, bocah wanita polos yang seharusnya bersekolah dan menikmati masa kanak-kanaknya tapi harus bekerja bahkan sambil menahan rasa lapar.
          “yasudah kita beli makan ya, kamu mau makan apa dik? “ Tanya caca dengan mata yang berkaca-kaca
          “saya gak punya uang kak.. “ kali ini sambil menatap caca dengan wajah yang pucat dan mata yang merah karna dari tadi menangis.
          “nama kamu siapa ? “
          “fatma kak.. “
          “yasudah fatma tunggu disini ya itu ada bakso, kakak belikan ya, fatma suka bakso ? “
          “fatma pernah memakannya kak.. “ jawabnya tak seperti apa yang caca harapkan.
Pernah ? jawaban apa itu ? apa maksudnya sudah lama sekali dia tak memakan itu ? ya Allah seperti di iris sembilu hati caca tak tahan lagi ia membendung air matanya namun segera disekanya tak ingin menampakkan nya pada fatma,
          “fatma tunggu disini ya sayang, kakak belikan dulu tapi janji harus dihabiskan ya“
          “trimakasih ya kak“ tuturnya dengan senyum yang mulai mengembang dari bibirnya namun hanya sekilas
caca pergi meninggalkan fatma dan setelah memesan bakso kembali ia terhanyut dalam memikirkan apa sebenarnya yang terjadi dengan fatma, kenapa harus dia, dia yang bahkan mungkin belum merasakan manisnya dunia tapi sudah lebih dulu merasa perihnya hidup,dalam hatinya caca berdoa ya Allah kuatkan fatma menjalani hari2nya , hari2 yang mungkin akan jauh lebih sulit dari hari ini.
          “dek ini baksonya “ tukang bakso tersebut menyadarkannya dari lamunannya
          “oh iya makasih bg“
Caca langsung berjalan ke tempat dimana fatma sudah menunggunya
          “ini fatma makan dulu ya, sini korannya biar kakak yang pegang“
          “makasih ya kakak cantik, kakak cantik dan baik, nanti kalau udah besar fatma mau jadi seperti kakak“ bias wajah itu caca dapat melihatnya, senyum itu ada suatu harapan disana
          “caca ,panggil aja kak caca ya sayang, yaudah kalau mau cepat besar dimakan dulu dong makanannya“ tersenyum sambil mengambil tempat duduk di samping fatma, fatmapun lalu mengambil mangkuk bakso tersebut dari tangan caca, tapi kemudian diletakkannya lagi, caca bingung tapi ia tak langsung bertanya ia hanya menunggu apa yang akan dilakukan anak di sampingnya itu, setelah ia meletakkan mangkuk itu kemudian ia mengngkat kedua tangannya lalu berdoa dalam hatinya, pemandangan yang cukup mengejutkan caca sekaligus membuatnya tersentuh, cukup lama doa itu kemudian setelah selesai berdoa fatma memandang caca yang berada disampingnya lalu tersenyum padanya,sedikit kaget caca pun membalas senyum itu dengan tanda Tanya, apa yang diminta fatma dalam doanya ? akankah ada nama caca yang sebutkannya? Tapi caca tak memikirkan itu terlalu lama caca kembali memperhatikan fatma, dengan pelan ia memakan makanan yang ada di hadapannya sambil sesekali memperhatikan caca dan kembali tersenyum.
          “kakak sudah makan? “tanyanya pada caca
          “nanti kakak bisa makan di rumah kok“ sambil tersenyum
Fatma hanya membalasnya dengan senyum tapi terlihat ada kesedihan disana, fatma menghentikan makannya lalu berdiri
          “fatma mau kemana? “ Tanya caca, apakah dia salah menjawab sehingga membuatnya mengingat sesuatu sehingga menghilangkan nafsu makannya
          “fatma mau minta plastic kak sama oom baksonya? “ jawabnya polos
          “plastic? Untuk apa fatma? “
          “fatma ingin memberikannya juga pada bibi kak“ sambil tertunduk
          “fatma tinggal dengan bibi ? org tua fatma dimana? “
          “udah di surge kak, dari kecil fatma udah tinggal sama bibi, kata bibi org tua fatma kecelakaan waktu fatma masih sangat kecil“
Deg ! hati caca seperti di hantam batu yang sangat keras, memilukan, perih, kenapa harus seberat ini beban yang fatma tanggung . caca tak mau melanjutkan pertanyaan mengenai orang tua fatma ia tau iu hanya akan membuat fatma sedih.
          “koran2 itu? Siapa yang menyuruh fatma menjualnya? “
          “gak ada yang menyuruh kak, fatma mendapatkannya dari ibu2 yang tidak jauh dari rumah fatma, upahnya fatma mendapat makanan dan uang kak “ sambil tersenyum
          “bibi fatma sekarang dimana ? “
          “bibi sedang sakit kak“ jawabnya lesu
Caca tidak tau harus berbuat apa ingin rasanya mengantar fatma pulang lalu melihat kondisi bibi fatma, tapi ia ingat bahwa ia belum izin pada ibu ia yakin ibunya pasti akan khawatir,  baru saja ia akan mengeluarkan hpnya ia teringat bahwa hpnya low, ia lalu mengeluarkan uang 20.000 dari dalam saku bajunya, lalu memberikannya pada fatma
          “fatma ini untuk fatma, ambillah “
          “tidak usah kak“
          “kenapa, ambillah gak apaaapa fatma, fatma percaya kakak kan? Kakak gak ada maksud apaapa, kakak hanya ingin memberikan ini saja pada fatma“
          “bukan begitu kak, tapi kata bibi fatma tidak boleh menerima uang dari siapapun yang belum fatma kenal“
          “fatma kan sudah kenal kakak, kenapa masih tidak mau mengambilnya? “
          “fatma tidak bisa kak“dengan wajah menyesal
          “kalau gitu gimana kalau kakak beli semua koran2 fatma itu ? “
          “semua kak ? untuk apa kakak Koran sebanyak itu“
          “ada deh, boleh gak, ayo kalau ada yang mau beli masak gak boleh sih“ sedikit merayu berharap fatma mau menjualnya karna taka da cara lain lagi untuk membantu fatma saat itu menurut caca.
          “boleh kak“
          “Alhamdulillah, berapa dong semuanya? “ kali ini dengan senyum yang menunjukkan kelegaannya karna fatma mau menjualnya, otomatis dia bisa membantu fatma sedikit
Setelah fatma selesai menghitung korannya
          “jumlah korannya ada 7, kak jadi 14000 kak“
          “oke deh, ini uangnya “ menyodorkan uang 20.000 dan mengambil Koran dari tangan fatma.
Fatma Mengambil uang tersebut dan menghitung kembaliannya
“ini kembaliannya kak, trimakasih ya kak“
“iya fatma samasama, sekarang fatma habiskan saja baksonya, biar nanti kakak akan belikan juga untuk bibi, kali ini fatma gak boleh nolak, sampaikan salam kakak ke bibi fatma ya, kapan2 boleh gak kakak main kerumah fatma ?“
“kakak mau kerumah fatma? Boleh kok kak, bibi pasti senang jika nanti fatma ceritakan tentang kakak“ jawabnya antusias
“yasudah sekarang fatma habiskan dong baksonya, “
“iya kak“ langsung menuruti perkataan caca lalu memakan baksonya.
Setelah selesai makan lalu fatma segera mengucapkan trimakasih pada caca dan kembali berdoa seperti yang ia lakukan sebelumnya, dan kembali tersenyum pada caca.
fatma lalu berpamitan pada caca sambil memegang sebungkus bakso yang telah di pesan caca untuk bibinya dan tanpa disangka oleh caca fatma lalu mencium pipinya dan lagi2 mengucapkan terima kasih, lalu berjalan pergi.
Caca kaget sekaligus haru dan bahagia, ia senang bisa membuat fatma tersenyum dan sedikit mengurangi kesedihannya, ia memandangi tubuh caca yang mungil yang kemudian berjalan menjauh darinya , lalu fatma membalikkan badannya dan kembali tersenyum pada caca, cacapun membalas senyum itu, lalu fatma melanjutkan perjalanannya. Caca berjanji pada dirinya suatu saat nanti dia harus bisa membuat sebuah lembaga pendidikan untuk membantu anak2 seperti fatma, supaya mereka juga bisa bersekolah seperti anak2 lainnya.

. . .

Sesampainya dirumah
          “Assalamualaikum “
          “waalaikumussalam, kok pulangnya lama ca? “
          “nih bu“ sambil menunjukkan Koran yang dipegangnya sambil tersenyum lalu berjalan mendekati ibunya lalu mencium tangannya.
          “maksudnya ca? “dengan penuh keheranan
Cacapun menceritakan apa yang terjadi .
          “ya ampun sayang, trus fatmanya dimana? “ dengan mata berkaca-kaca
          “ya pulang ke rumah bibinya bu “
          “ibu bangga punya anak seperti caca“ sambil memeluknya
Keduanya pun hanyut dalam kehangatan di sore itu.

. . .

Caca merebahkan tubuhnya ketika  selesai mengerjakan tugas sekolah yang diberikan oleh buk fani guru matematika yang cukup sabar menurutnya, bagaimana tidak setiap ada siswa yang belum faham dengan materi yang di sampaikan buk fani dengan sabar mengulangnya, dan ajaibnya teman2 caca dan termasuk caca cepat memahami materi yang di sampaikan buk fani, mungkin ada sekali2 tidak faham tapi ketika telah di ulang sekali lagi oleh buk fani insyaAllah semuanya akan faham, bahkan yang sudah faham pun menjadi semakin pandai.
Lalu mata caca memandang langit2 kamarnya fikirannya melayang mengingat-ingat kejadian yang terjadi hari ini, memandangi tumpukan Koran yang ada di atas meja belajarnya, fikirnya menerawang jauh ternyata tak perlu jauh2 lagi mencari anak2 yang dengan latar hidup yang cukup menyedihkan seperti fatma bahkan di tempatnya berpijak kini pun telah dapat ditemukannya, caca sendiri pun tak bisa membayangkan jika itu terjadi pada dirinya .
Lalu caca memundurkan lagi ingatannya dan terhenti disaat kak jaka meminta pin bbnya ia masih tak percaya bahwasanya kak jaka meminta pinnya tapi kalau mengingat ingat alasan kk jaka memintanya yaa masuk akal sih dan itu membuatnya tidak berfikir panjang lagi , ia lalu meraih ponselnya yang ada disisi tempat tidurnya, memperhatikan layar hp nya melihat-lihat kalau-kalau ada undangan group dari organisasi yang tadi siang kak jaka katakan.
Dan benar saja tanpa harus menunggu lama hpnya berbunyi tapi ini bukan undangan group yaa caca memastikan sekali lagi dan benar itu bukanlah undangan group melainkan undangan obrolan pribadi, sebuah inisial A.Z caca mengingat-ingat kira2 siapa temannya yang memiliki inisial itu atau bahkan orang2 yang dikenalnya yang bahkan tidak satu sekolah dengannya, caca sempat berfikir apakah kk jaka, tapi segera di tepisnya anggapan itu dalam hatinya berfikir mana mungkin seorang kk jaka mengajakku mengobrol pribadi di bbm, dan bahkan nama lengkap kak jaka pun caca gak tau, lelah ia mengingat-ingat akhirnya caca mengambil keputusan untuk mengACC undangan tersebut , caca tak berfikir siapa2 dia hanya mengira siapa tau saja ada yang penting yang akan disampaikan.
Caca terlelap setelah lelah menunggu apakah akan ada pesan masuk dari si inisial A.Z karna caca tak ingin memulai percakapan lebih dulu. 5 menit kemudian hpnya berbunyi tanda ada sebuah pesan bbm yang masuk caca terbangun karna ia meletakkan hpnya di samping telinganya tentu saja dengan mudah membangunkannya,
Assalamualaikum
Sebuah pesan singkat, caca yang masih samar2 memandang layar hpnya langsung mengambil posisi duduk, setelah membacanya sekali lagi caca pun segera membalas.
          Waalaikumussalam iya?
          Maaf ini siapa ya?
Lama ia menunggu tapi belum juga mendapat balasan,dan kali ini akhirnya caca benar2 terlelap,sepertinya hari ini begitu melelahkan menutup matanya menutup hari panjangnya , menunggu itu sungguh melelahkan fikirnya .

. . .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita tonggak peradaban

Cerminan hatiku

Pantaskah aku bertaubat?